Kamis, 30 Mei 2019

SITI MUTI'AH " WANITA YANG PERTAMA MASUK SURGA"

Kisah ini begitu menginspirasi bagi kaum hawa. Yang menjadi teladan dan bisa jadi contoh hidup berkeluarga.

Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.

Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah einginann fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.
Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.
“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.
“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.
“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.
“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.
“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada auami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.
Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini a ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:
“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.
Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.
“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.
Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.
“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah
“Di ladang,” jawab Muti’ah.
“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.
“Bukan. Bercocok tanam.”
“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”
“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyu.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”
“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.
“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”
Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.
“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”
tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.
“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

Sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.

Tapi semua itu selain sudah menjadi takdir dari Alloh SWT, namun jika kita meniatkan diri berbuat baik, insyaAlloh akan dibukakan jalan oleh-Nya.
Sayapun tidak bisa membuka hidayah untuk istri dan kaum hawa lainnya.
Setidaknya aku berdo'a untuk istriku dan bagi seorang istri-istri yang lain yang memiliki suami bisa mendapatkan hidayah dibukakan hatinya untuk selalu berlapang dada dalam berumah tangga.
Aamiin.

Semoga Bermanfaat...

Malam 26 Ramadhan 1440 H,
Kamis malam Jum'at, 30 Mei 2019

Selasa, 07 November 2017

"JAN..x"

Kata "Jan..x" bagi sebagian masyarakat Jawa Timur, tidak asing lagi, terutama kota Surabaya dan kota sekitarnya yaitu Sidoarjo dan Mojokerto.

Ada apa dengan kata ini, hingga penamaan stasiun televisi menggunakan nama " Jan..x televisi ".
Apakah karena kata tersebut merupakan ikon atau ciri khas  Surabaya?

Mari kita amati diri sendiri.

Pertama,
Kata " Jan..x" tidak ada artinya namun bisa dikonotasikan negatif karena bahasa itu universal.
Ketika kita berucap kata tersebut, maka sekitar kita, orang lain utamanya wilayah Jawa Timur, dan bahkan diri kita, menyadari bahwa ada rasa yang tidak puas, ada rasa yang tidak sesuai dengan hati kita.

Kedua,
Kata " Jan..x" sudah terlanjur dikonsumsi masyarakat sebagai kata yang tidak apa- apa, tidak kharam, karena tidak menyakiti orang lain.Jika menyakiti barulah tidak boleh.Apalagi hal itu telah dilontarkan oleh orang yang sudah punya nama besar dan memiliki pengaruh.

Jika memang kata tersebut tidak berdosa," mengapa ada rasa yang tidak enak di dalam diri juga orang yang di sekitar kita ?
Inilah hukum alam.

Coba renungkan :
Saat emosi memuncak , kata " Jan..x" terlontar, hati terguncang , pikiran kacau.

Apa yang terjadi ?
1.Menyakiti hati sendiri.
   * jiwa kita sejatinya ingin selalu tenang, namun disaat sering ucapkan kata " Jan..x" ,jiwa goyah.
    * Tekanan darah tinggi.
     Karena pengucapannya spontan dengan nada tinggi, otomatis tekanan darah juga naik.
      *Bau mulut
       Mulut yang selalu dibuat berkata yang tidak baik, lambat laun akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.Si pelaku tidak merasa dan tidak menyadari namun orang lain yang didekatnya yang merasakannya.

2.Menyakiti orang lain.
   Lawan bicara akan tersakiti karena ucapan tersebut.

Saudaraku,
Jika kita masih saja memelihara kata"Jan..x" tersebut, maka tanpa kau sadari ,kau telah meracuni diri sendiri maupun orang lain , yang akan menjadikan kebiasaanmu kelak.
Bukankah akhir adalah nilai nya?
Jika akhir hayat kita baik, maka baiklah semuanya.

Perbaiki mulai sekarang.
Pilihlah kata yang baik, bukankah ucapan adalah " Do' a??
Dan bukankah kata - kata yang bagus telah dipilihkan oleh -Nya?

Wallohu bissowab.

Jumat, 23 Juni 2017

TAK WARAH

Kalimat ''TAK WARAH" ini berkonotasi bohong.Kebohongan pada diri sendiri dan juga pada orang lain yang diajak bicara.Menurutnya ,dengan begitu dia menyembunyikan sesuatu yang dia orang lain tidak boleh tahu.

Ada baiknya jika bicara yang sebenarnya atau bilang mohon maaf saya tidak mau bicara masalah ini.

Bohong adalah satu satu ciri orang-orang munafik.

Seseorang tidak mau disebut munafik.Akan tetapi perangainya sangat bertentangan dengan akhlak yang diperbuatnya.Sungguh ironis memang.

Neraka syakorlah tempatnya.

Jagalah diri dari sifat ini.

Sabtu, 25 Maret 2017

MARAH Bag.1

Bismillahirrahmanirrahim
Marah adalah salah satu bentuk emosi jiwa yang terlepas kendali.Begitu garang,begitu riuh terdengar.

Keinginan Diri yang tidak terpenuhi atau keegoisan Diri inilah muncullah yang namanya marah .

Tak peduli siapa yang dihadapi, jika sudah marah , terlepas lah tanpa kendali.

Selasa, 01 Maret 2016

MASUK WILAYAH-NYA (bag.4 .habis)

Ada salah satu teman yang bilang ke saya," mengapa tulisannya meloncat - loncat?"

Mohon maaf karena masih dapat yang itu , dan belum dibukukan.
Semoga kelak Alloh bisa memberi jalan untuk menjadikan tulisan ini menjadi buku yang utuh.aamiin.

Lehhh kok ngelantur...
Maaf...fikiran lagi kesitu...

Kembali kepada pokoknya.

Ada satu sifat walaupun ia telah berusaha menjalankan sholat,puasa serta dzikir ternyata masih saja belum bisa menguasai dirinya.
Sifat ke-ego-an masih melekat.Masih merasa benar sendiri, masih merasa diri yang paling baik dan seterusnya.

Jika memang orang itu sudah benar masuk wilayah-Nya , sifat rahman rahim lah ( kasih sayang ) yang tercipta karena Alloh juga Maha Rahman Rahim kepada semua ciptaan-Nya.

Celupan sifat inilah yang Alloh berikan kepada mereka yang telah berusaha masuk ke tempat Wilayah-Nya,selalu.

Semoga,

Wallohu bisshowab

MASUK WILAYAH-NYA ( bag.3 )

Sering-sering masuk wilayah-Nya dengan cara merasakan kedekatan dengan-Nya.Sehingga setiap langkah selalu ngobrol dengan-Nya.

Sangat sederhana sekali.
Cukup bicara dalam hati tidak perlu bicara keras-keras.Karena Dia-pun mendengar karena Dia Maha Mendengar walaupun tidak bersuara.Serta bahasa-Nya juga bukan dalam bentuk Suara.

Ya Alloh saya ingin ini...
Ya Alloh saya mau ke...
Ya Alloh saya punya masalah ini...
Ya Alloh apa yang harus saya lakukan...

Dan lain sebagainya...

Oh begitu indahnya kita selalu bersama-Nya.

Tanpa kita sadari kita sering diberikan contoh ketika kita menonton film atau sinetron.

Orang baik selalu bicara dalam hati mengadu kepada Tuhan, apa yang mesti diperbuatnya.

Beda dengan orang jahat selalu bergumam sendiri, kekalutan yang datang.Setanpun masuk wilayah ini.Berbaur menjadi satu.Runyam jadinya.

MASUK WILAYAH-NYA ( bag.2 )

Ketika sudah masuk wilayah-Nya celupan keilahian masuk ke jiwa kita.Tuntunan ilahi serasa melangkahkan jiwa ini untuk selalu bersama-Nya.

Kita dituntun untuk berbuat baik, apasaja yang membuat hati tenang.Berpuasa, sholat, atau dzikir. Asmaul husna yang 99 itu serasa dicurahkan kepada mereka-mereka yang masuk Wilayah-Nya.

Ada kesombongan muncul, diingatkan-Nya.

Ada rasa sesal muncul,pikiran kalut atau gundah gulana, diingatkan-Nya dengan istighfar sebanyak-banyaknya.

Ada keberhasilan datang melalui diri,anak atau istri diingatkan-Nya untuk bersyukur dan mengembalikannya kepada-Nya.

Sehingga kiblat-Nya,poros-Nya hanya kepada Alloh Pemilik Segala Sesuatu.

Wallohu a'lam bisshowab.